Badan Gizi Nasional (BGN) telah memutuskan untuk kembali menyertakan susu dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang akan mulai berlaku pada 1 November mendatang. Kebijakan baru ini secara khusus mewajibkan 80 persen dari total pasokan susu harus berupa susu segar yang berasal dari peternak lokal.
Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan informasi ini setelah menghadiri pelantikan pengurus DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Aceh di Aceh Besar pada Selasa (13/10/2026). Sudaryono menjelaskan bahwa nota dinas telah dikeluarkan, mengizinkan dapur-dapur penyedia MBG untuk kembali mengadakan susu.
Dukungan untuk Peternak Lokal
Sebelumnya, pengadaan susu untuk program MBG sempat dihentikan. Namun, dengan kebijakan baru ini, BGN bertujuan untuk mendukung dan memajukan peternak lokal di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah dataran tinggi yang memiliki potensi peternakan sapi perah.
“Susu yang dibagikan kepada anak-anak kita di sekolah itu sesuai dengan yang kami putuskan adalah 80 persen harus susu segar yang berasal dari peternak lokal. Sehingga ini akan men-trigger peternak-peternak kita di seluruh Indonesia, khususnya daerah yang tinggi-tinggi itu biasanya peternakannya kita harapkan akan lebih maju,” ujar Sudaryono.
Mengatasi Persoalan Rantai Pasok Pangan
Selain komoditas susu, Sudaryono juga menyoroti tantangan dalam rantai pasok pangan untuk komoditas MBG lainnya, seperti telur dan daging ayam. Ia mengakui adanya masalah harga telur yang seringkali menekan peternak akibat peran perantara atau middleman.
Untuk mengatasi praktik perantara yang merugikan peternak dan mendukung pemberantasan mafia pangan, BGN berencana meluncurkan platform pasar digital atau marketplace khusus. Platform ini diharapkan dapat memotong jalur distribusi yang panjang dan memastikan harga yang adil bagi produsen.
Peluncuran Pasar Digital untuk Komoditas MBG
Melalui marketplace ini, dapur-dapur penyedia MBG akan diwajibkan untuk membeli tujuh komoditas utama, termasuk telur, ayam, beras, dan minyak goreng, secara daring. Hal ini bertujuan untuk menciptakan transparansi harga dan memastikan bahwa sumber komoditas berasal langsung dari peternak atau koperasi peternak.
“Dapur-dapur itu wajib membeli telur, ayam, beras, minyak goreng ada 7 komoditas itu melalui marketplace, melalui online. Sehingga harganya kita jelas dan sumber dari telur dan ayam dan dagingnya itu berasal dari peternak, dari koperasi-koperasi peternak,” papar Sudaryono.
BGN saat ini sedang dalam tahap perancangan marketplace tersebut. Sudaryono memperkirakan soft launching dapat dilakukan pada bulan depan (November), dengan grand launching direncanakan paling lambat pada Desember tahun ini.
Konten artikel belum tersedia.

